Samosir Punya Segalanya Untuk Menggaet Wisatawan China

Samosir Punya Segalanya Untuk Menggaet Wisatawan China

KEINDAHAN alam berbasis danau, air terjun, bukit dan lembah yang ada di Kabupaten Samosir, ditambah kekayaan budaya serta atraksi berupa event, adalah potensi yang sangat besar untuk menggaet wisatawan China untuk datang ke Samosir.
Dan, potensi tersebut lah yang membuat Kementerian Pariwisata melalui Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata II Regional I China Dede Ahmad Kurnia optimis bahwa wisatawan China adalah pasar potensial untuk menjadi target pemasaran pariwisata Samosir.
Hal tersebut ia paparkan dalam Bimbingan Teknis Sinergitas Promosi Pariwisata Pasar China Dengan Pelaku Industri Pariwisata yang dilaksanakan di Hotel Toledo Inn, Rabu (31/7/2019)-Kamis (1/8/2019).
Selain dari Kementerian Pariwisata, bimbingan teknis tersebut juga menghadirkan Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Gerindra Ir Salomo Parlindungan Hutabarat yang membuka dan menutup kegiatan, kemudian narasumber dari Politeknik Pariwisata Medan dan Kepala Dinas Pariwisata Samosir, dengan peserta dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), komunitas becak wisata, kelompok sadar wisata (pokdarwis), pengusaha rental sepeda, sepedamotor, mobil, pengelola objek wisata dan Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir.
Dede memaparkan bahwa China yang merupakan negara berpenduduk terbanyak di dunia, sekitar 1,3 miliar jiwa, sudah menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia. Geliat ekonomi di negara tirai bambu tersebut begitu gencar hingga untuk bepergian wisata keluar negeri bukan lagi perkara sulit bagi mereka.

“Sekarang, banyak orang kaya baru di China. Tahun 2018, ada 135 juta penduduk China yang bepergian keluar dari negaranya. Nah, 0,1 persen saja pun dari jumlah tersebut datang ke Samosir, itu sudah sangat besar dampaknya bagi perekonomian masyarakat. Sebab, dalam pariwisata, dengan 1 wisatawan mancanegara (wisman) saja, ada 20 hingga 30 industri yang terdampak,” jelasnya.
Apalagi, kata Dede, tipe wisatawan China sangat menyukai lokasi-lokasi yang sangat indah yang bisa dijadikan tempat berfoto dan lokasi seperti ini banyak ditemukan di hampir seluruh wilayah Samosir. Kemudian, foto tersebut akan dibagikan melalui media sosial kepada sanak family dan tetangga. Dampaknya, berharap saudara atau tetangga yang melihat foto tersebut jadi ingin berwisata ke Samosir.
“Sebab, ada gejala sosial di China, dimana satu sama lain ingin menunjukkan siapa yang lebih kaya. Mungkin itu dampak perkembangan ekonomi mereka yang tengah meroket. Ketika seseorang membeli sesuatu atau pergi ke suatu tempat, tetangga yang lain pun tak mau kalah dengan membeli barang serupa atau lebih, serta bepergian ke tempat serupa atau yang lebih baik lagi. Dan, gejala sosial yang tengah berlangsung di sana menjadi kesempatan kita untuk menggaet wisatawan China,” ujar Dede.
Namun, kata Dede, Samosir juga harus berbenah, baik dari segi penataan, pengembangan SDM dan promosi pariwisata. Misalnya, selain penataan kawasan, masyarakat Samosir juga harus mempersiapkan guide yang mampu berbahasa China karena kebanyakan wisatawan China tidak mengerti bahasa Inggris.
Dalam hal promosi, kita juga harus masuk ke komunitas mereka melalui media sosial yang ada. Sebab, kata Dede, China merupakan peringkat pertama dalam hal transformasi digital. Di negaranya, hampir semua aktivitas transaksi sudah terintegritas dalam media digital.
Karenanya, dalam berpromosi, Dede menyarankan agar mari memasuki media sosial mereka, seperti WeChat, Weibo, medsos berbasis video, yaitu Youku Tudou atau mesin pencari bernama Baidu. Selain itu, Dede juga menegaskan agar kita harus menerapkan strategi tata niaga, dimana produk-produk kita berupa paket-paket wisata, harus ada di jalur distribusi di luar negeri, baik di China ataupun di Negara-negara Eropa.
“Kita juga harus pelajari tipe wisatawan China. Misalnya, mereka lebih suka berkelompok, direct flight, perjalanan wisata lengkap dalam satu paket (all in package), guide berbahasa China dan sangat mementingkan safety and security. Nah, kita tau selera mereka, kita siapkan paket wisata sesuai selera mereka dan kita promosikan dengan masuk ke media sosial mereka. Apalagi, ada Bandara International Sisingamangaraja di Silangit. Ayo kita bangun kerjasama dengan maskapai agar ada pesawat direct flight dari China ke Silangit,” ujarnya.

Apalagi, ketertarikan wisatawan China untuk datang ke Indonesia pun sudah menunjukkan bukti, dimana sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari 2019, wisman terbanyak yang berkunjung ke Indonesia adalah wisman asal China sebanyak 176.334.
Para peserta bimtek pun menyambut baik paparan ini. Dan, bila pasar China memang potensial, usulan paling mendesak yang mereka harapkan, agar pemerintah segera mendirikan atau memfasilitasi berdirinya lembaga pendidikan kursus bahasa China (Mandarin) di Samosir.
Dan, tak hanya soal bahasa, mereka juga meminta difasilitasi pelatihan chef chinese food, karena wisatawan China cenderung tidak mau memakan kuliner lain selain chinese food.
Kepala Dinas Pariwisata Daulat Nainggolan SKM MKes pun menyambut baik kegiatan ini. Dia mengatakan bahwa Dinas Pariwisata Samosir serta instansi terkait lainnya terus gencar dalam pembenahan objek wisata serta meningkatkan SDM pelaku-pelaku wisata, tentu dengan kesanggupan anggaran yang tersedia, baik itu dari APBD Kabupaten Samosir maupun dana dari pemerintah pusat.
Terkait promosi, Dinas Pariwisata juga terus membangun dan mengembangkan media digital, baik itu berbasis website maupun media sosial. Bahkan, cara-cara konvensional juga masih dilakukan, seperti pencetakan flyer, kalender pariwisata maupun pemasangan baliho.
“Kita sangat mengapresiasi kegiatan ini. Dengan digelarnya kegiatan ini di Samosir, berarti pihak Kementerian Pariwisata dan Bapak Ir Salomo Hutabarat selaku Anggota Komisi X DPR RI optimis bahwa Samosir punya potensi menggaet wisatawan China. Karenanya, kami akan terus berbenah, baik dari segi fisik maupun SDM, tentu dengan didukung rekan-rekan pelaku wisata di Samosir, dan tentunya juga dengan dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Komisi X DPR RI, dalam hal anggaran,” pinta Daulat Nainggolan.

Posted In:

GIVE A REPLY