Promosi Pariwisata Samosir di Pasar Eropa: Kedepankan Kekayaan Budaya Sebagai Icon Wisata

Promosi Pariwisata Samosir di Pasar Eropa: Kedepankan Kekayaan Budaya Sebagai Icon Wisata

PEMERINTAH, dalam hal ini Kementerian Pariwisata, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten Samosir tak henti-hentinya melakukan terobosan untuk memajukan pariwisata Danau Toba, khususnya Samosir, demi meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara, yang kemudian akan berdampak terhadap meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
Dan, salah satu dari begitu banyak upaya yang dilakukan adalah dengan digelarnya Bimbingan Teknis Sinkronisasi Promosi Pariwisata di Pasar Eropa oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang berlangsung Kamis-Jumat (27-28/6/2019) di Toledo Inn, Tuktuk Siadong, Kabupaten Samosir.

Bimbingan teknis tersebut menghadirkan peserta dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia, komunitas abang becak wisata Samosir, kelompok sadar wisata (pokdarwis) dan Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir.
Dalam sambutan pembukaan, Anggota DPR RI Ir Salomo Parlindungan Hutabarat menyampaikan bahwa DPR begitu mendukung pembangunan pariwisata Indonesia, secara khusus wisata Danau Toba, baik secara politis maupun anggaran.
“Danau Toba bahkan masuk dalam 4 super prioritas pembangunan pariwisata di Indonesia. Kita stakeholder di Kabupaten Samosir harus menyambut baik program ini. Kita benahi daerah kita, kita benahi sikap dan kita angkat sense of cultural yang merupakan atraksi yang paling dikejar oleh wisatawan mancanegara,” jelas anggota Komisi X DPR RI ini.
Salomo menambahkan bahwa budaya dan kearifan lokal lebih diminati oleh pasar Eropa, tanpa mengenyampingkan panorama alam.
“Karena mungkin keindahan alam bisa ditemukan di banyak tempat. Tapi, budaya di Samosir ini, ya hanya bisa mereka dapatkan di sini. Kekayaan budaya inilah yang paling membuat mereka tertarik untuk datang kemari,” jelasnya.

Salomo menyarankan, perpaduan panorama alam dan kekayaan budaya ini kemudian harus dipromosikan dengan kemasan yang baik. “Kalau pasarnya adalah Eropa, mari kita kemas promosinya secara digital, karena media digital adalah media yang paling representatif untuk mereka yang memang saat ini sudah serba digital,” jelasnya.
Dia pun berharap agar bimtek ini menjadi langkah lanjutan untuk menduniakan Danau Toba, yang saat ini sedang berlangsung dan diharapkan terus berkesinambungan di masa-masa mendatang.
Senada disampaikan I Gusti Ngurah Putra selaku narasumber dari Bidang Calender of Event di Kemenpar. Dia juga menekankan betapa pentingnya icon budaya dikedepankan untuk menarik minat wisatawan mancanegara.
“Ada 3 kategori potensi wisata, yakni potensi alam, budaya dan buatan manusia. Mungkin, pesona alam dan kecanggihan buatan manusia sudah lengkap di Eropa. Tapi, kekayaan budaya Batak yang asalnya dari Samosir ini, adalah potensi yang hanya bisa mereka dapatkan di sini. Mari kita kedepankan potensi ini. Jangan dulu motivasinya untuk uang, tetapi kita berikan jiwa untuk melestarikan kekayaan budaya ini yang kemudian ini yang akan dikejar oleh wisatawan mancanegara,” jelanya.
I Gusti Ngurah Putra mencontohkan seperti di Bali, dimana masyarakat di sana konsisten menggelar ritual menari, upacara adat, yang tujuannya tak hanya sekedar menarik wisatawan, tapi sebuah pengabdian bagi kebudayaan mereka.

“Jadi, ada tidak ada wisatawan, mereka tetap menari. Mereka itu tulus, menari dengan roh dan segenap jiwa mereka, mengedepankan pengabdian. Itu adalah hal baik yang pantas kita tiru,” ujarnya.
Pria kelahiran Bali ini juga mengatakan bahwa kekayaan budaya tersebut juga harus dikemas dengan baik. Misalnya, di setiap objek wisata budaya, di setiap pertunjukan tarian dan kesenian lainnya, turut disertakan story line, agar wisatawan mengerti bagaimana cerita-cerita historis dan filosofi yang terkandung pada pertunjukan budaya dan situs budaya tersebut.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir yang diwakili Robintang Elfrianto SS juga memaparkan hal serupa. Dia mengatakan bahwa benar kekayaan budaya adalah hal istimewa yang memiliki nilai jual lebih yang ditawarkan kepada wisatawan mancanegara.
“Kita tak perlu kemewahan. Kemewahan di sebuah kawasan wisata tentu sudah ada pada mereka masyarakat Eropa. Tapi, kita punya pesona alam yang hanya sedikit lagi dipoles, kita punya kekayaan budaya yang harus konsisten kita pelihara. Dan, bila wisatawan asing merasa berkesan atas atraksi yang kita miliki, tentu pengalaman ini akan mereka sampaikan kepada teman-teman mereka di Eropa,” jelasnya.
Tentu, ini sudah dilakukan dan akan terus dilakukan. Hal ini terbukti dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang senantiasa meningkat setiap tahunnya. Untuk pasar Eropa, kunjungan wisatawan Prancis adalah yang tertinggi, disusul Jerman dan Belanda.

“Bahkan, kita tidak menduga bahwa wisatawan dari Belgia juga sudah berkunjung kemari. Padahal, kita tak pernah berpromosi kesana. Dan, tentu informasi tentang betapa luar biasanya Samosir ini mereka dapatkan dari teman-teman mereka di Eropa yang mungkin bercerita langsung atau tersampaikan melalui media digital,” ujarnya.
Dia juga menyoroti betapa pentingnya kejujuran dalam melayani wisatawan mancanegara. “Wisatawan mancanegara itu punya kemampuan yang baik dalam membaca psikologis. Nah, ketika kejujuran kita kedepankan, dia akan semakin betah dan bahkan rela memberikan lebih kepada kita. Dia juga akan bercerita pengalamannya kepada temannya di Eropa sana. Kan ini akan panjang dampaknya terhadap pariwisata Samosir ini,” jelasnya.
Selain itu, Dinas Pariwisata juga tengah memperkuat sumber daya manusia. Disampaikan bahwa Dinas Pariwisata konsisten memberikan pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat agar turut menjadi pelaku wisata, sehingga keterlibatan dan dampak pariwisata dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Samosir.
“Target kita, akan ada local champion yang merata di Kabupaten Samosir. Mereka ini akan menjadi pelaku pariwisata dan menjadi garda terdepan dalam menciptakan kesan dan pengalaman yang indah bagi wisatawan,” ujarnya.
Sebab, kata Robintang, Pemkab Samosir bertekad menciptakan pemerataan tujuan wisata, sehingga objek yang dikenal dan dikunjungi tidak hanya satu atau dua saja. “Ini juga sudah kita lakukan. Sekarang ada 200 lebih objek wisata, yang kita bagi dalam 3 kategori, yakni objek wisata unggulan, prioritas dan rintisan. Ke depan kita harapkan seluruh masyarakat Samsoir merasakan dampak dari pariwsata ini,” ujarnya.

Pada pertemuan itu, banyak masukan dari peserta terkait situasi dan perkembangan pariwisata Samosir yang menjadi catatan Kemenpar dan Pemkab Samosir, di antaranya usulan agar icon pariwisata Samosir yang mengedepankan budaya segera direalisasikan, pembangunan Sekolah Tinggi Pariwisata, sertifikasi bagi pemandu pariwisata, pemeliharaan kebersihan di sejumlah objek wisata, merangsang tumbuhnya media-media pendidikan bahasa asing, pembenahan dermaga dan beberapa masukan lainnya yang akan menjadi pertimbangan pemerintah dalam melakukan pembenahan.

Posted In:

GIVE A REPLY