Objek Wisata di Tomok: Kuburan di Atas Pohon, Warisan Budaya yang Harus Anda Kunjungi!

Objek Wisata di Tomok: Kuburan di Atas Pohon, Warisan Budaya yang Harus Anda Kunjungi!

WARISAN budaya makam di atas pohon diproyeksikan menjadi daerah tujuan wisata baru di kawasan Tomok, Kabupaten Samosir dan mampu menarik minat wisatawan yang tentunya akan berdampak baik pada kesejahteraan masyarakat.
Demikian harapan yang disampaikan Bupati Samosir Rapidin Simbolon SE MM dan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sauduran pada acara launching objek wisata Kuburan di Atas Pohon Lumban Sijabat, Desa Tomok Induk, Kecamatan Simanindo, Selasa (17/12/2019).
Bupati mengatakan, pemerintah benar-benar fokus dalam pembangunan pariwisata di Kabupaten Samosir. Hal ini terbukti dari berbagai pembangunan fisik dan sumber daya manusia yang terus berlangsung selama beberapa tahun ini. Dan, ke depan, pembangunan akan terus berlangsung.
“Kami Pemerintah Kabupaten Samosir terus berkordinasi dengan Pemerintah Pusat, bagaimana agar anggaran dialokasikan ke Samosir. Dan, syukur kita sampaikan bahwa pembangunan akan terus berlangsung. Misalnya, renovasi pusat perbelanjaan, pembangunan trotoar dan waterfront city di sepanjang Tomok akan segera dilaksanakan. Jadi, wisatawan akan semakin nyaman berjalan di sepanjang jalan,” ujar bupati.

Lebih lanjut disampaikan, Tomok sebagai salah satu pintu gerbang Samosir harus siap pada semua pembangunan dan sumber daya manusianya juga harus siap dalam menyambut wisatawan. Keramahtamahan harus dijunjung tinggi, bagaimana agar wisatawan merasa nyaman berkunjung ke Tomok.
Bupati juga berpesan agar masyarakat Tomok, khususnya, dan masyarakat Samosir umumnya, harus menjaga pembangunan yang telah dilaksanakan. Sebab, pembangunan kepariwisataan tidak akan berjalan baik kalau hanya diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Tetapi, harus ada dukungan masyarakat, terutama para pelaku wisata.
“Jadi, kalau sudah dibangun, ya sama-samalah kita jaga. Pemerintah tidak akan mampu mengawasi itu selama 24 jam. Jika ada orang luar ingin merusak, kita harus melarang, karena itu punya kita. Dan, jangan juga malah kita sendiri yang merusaknya,” ujar bupati.
Terkait objek wisata Kuburan di Atas Pohon, bupati mengatakan bahwa di lokasi ini ke depan akan dilaksanakan Saturday Culture, sebagai pelengkap bagi wisatawan yang ingin berkunjung kemari. “Nah, di sini ada objek wisata yang sangat unik, dan akan ada juga penampilan pagelaran budaya. Wisatawan pun akan mendapatkan pengalaman yang asyik jika berkunjung kemari,” ujar bupati.

Diketahui, menurut Luhut Sijabat, keturunan ke-17 dari Raja Oppu Datu, Kuburan di Atas Pohon merupakan makam dari Raja Ompu Siuluan atau Oppong Gasal, anak kesayangan dari Raja Oppu Datu. Makam ini sudah dibangun sekitar 450 tahun yang lalu. Raja Oppu Datu membangun makam ini untuk mengenang anaknya.
Diceritakan bahwa Raja Oppu Siuluan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan adat istiadat setempat. Ia jatuh cinta dengan istri seorang raja. Akibat perbuatannya, sang Raja melaporkan hal ini kepada Raja Oppu Datu. Namun, Raja Oppu Datu tidak percaya atas tuduhan yang disampaikan kepada anak kesayangannya.
Untuk membuktikan kebenarannya, keempat Raja Siopat Ama (Sidabutar, Sijabat, Siadari dan Sidabalok) sepakat membuat pengadilan menurut adat Batak hingga memutuskan menghukum mati Raja Ompu Siuluan. Dan, digunakanlah senjata sakti Bodil Simadang-adang milik Raja Oppu Datu. Senjata ini dipercaya dapat mengejar orang yang dinyatakan bersalah. Karena kesaktiannya, senjata ini mengenai Raja Siuluan meski ia telah bersembunyi.
Untuk mengenang kematian anak kesayangannya, Raja Oppu Datu memerintahkan untuk melaksanakan sebuah acara pemakaman. Oppu Gasal dikubur dalam sebuah peti batu dan di sekitarnya ditanami pohon hariara. Sekitar 350 tahun yang lalu, tumbuh pohon bitatar dan jajabi di dekat peti. Seiring berjalannya waktu, peti tersebut terangkat di atas ketiga pohon.

GIVE A REPLY