Sejarah Bangso Batak

Folklor Batak menyebutkan bahwa dalam cerita rakyat disebutkan bahwa orang Batak berasal dari dua orang manusia ciptaan Mulajadi Nabolon yang dinamakan Siraja Ihatmanisia (laki-laki) dan Siboru Ihatmanisia (wanita). Siraja Ihatmanisia mempunyai tiga orang anak, salah seorang diantaranya bernama Raja Miokmiok. Kemudian anak Raja Miokmiok bernama Engbanua dan Engbanua memiliki seorang anak bernama bernama Raja Bonangbonang. Raja Bionangbonang ini mempunyai tiga orang anak bernama Guru Tantan Debata, Si Asi dan Si Jau. Guru Tantan Debata memiliki seorang anak bernama Siraja Batak dan Siraja Batak sendiri memiliki dua aorang anak bernama Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon (Hutagalung,1926:27;O.H.S Purba,1997:15).

Pada generasi berikutnya Guru Tatea Bulan memiliki lima orang anak laki-laki bernama Siraja Biakbiak, Tuan Sariburaja, Limbongmulana, Sagalaraja, Maluraja, dan tiga anak perempuan bernama Siboru Pareme, Siboru Anting Sabungan, dan Siboru Biding Laut. Tuan Sariburaja melakukan kawin sumbang (incest) dengan adik perempuannya (ibotonya) Siboru Pareme dan mempunyai tiga orang anak bernama Siraja Lontung, Siraja Borbor dan Babiat. Raja Isumbaon mempunyai satu orang anak laki-laki bernama Tuan Sori Mangaraja. Tuan Sori Mangaraja mempunyai tiga orang anak, yaitu Tuan Sorba Dijulu, Tuan Sorba Dijae dan Tuan Sorba Dibanua.

silslah sirajabatak

silslah sirajabatak

 

Dalam garis besarnya, Vergouwen (1964, 5-16) membagi keturunan Siraja Batak menjadi 2 bagian besar. Yang pertama disebut belahan Lontung yang merupakan himpunan dari Borbor dan sejumlah marga yang lebih kecil, berasal dari keturunan Guru Tatea Bulan. Kemudian belahan Sumba yang kedalamnya termasuk kelompok marga turunan Raja Isumbaon. Dari kedua belahan tersebut menjadikan masyarakat Batak Toba sekarang ini.

Pada masa lalu masyarakat Batak Toba hidup dalam organisasi dengan norma-norma bentukan sendiri yang kerap disebut adat, patik dan uhum. Mereka hidup di satu wilayah tertentu memiliki tujuan bersama. Sub Etnis Batak Toba pada umumnya tinggal di daerah pedesaan. Di kalangan orang Batak Toba ada pengertian yang bermaksud untuk menyatakan kesatuan teritorial di pedesaan diantaranya Huta, Lumban dan Sosor. Huta biasanya merupakan kesatuan teritorial yang dihuni oleh keluarga yang berasal dari satu klen. Sedangkan Lumban berarti suatu wilayah yang dihuni oleh keluarga-keluarga yang merupakan warga dari satu bagian klen. Sosor adalah suatu wilayah yang dihuni oleh keluarga yang merupakan warga dari keturunan pendiri huta.